Monday, February 1, 2010

Modelling international tourism and country risk spillovers for Cyprus and Malta


Abstract
Small Island Tourism Economies (SITEs) are developing sovereign countries that rely on tourism as a source of exports, and need a consistent inflow of foreign investment in order to facilitate economic growth. Access to international capital markets helps SITEs smooth out their consumption over time, while absorbing adverse domestic production shocks. This paper provides a comparison of tourism growth, country risk returns and their associated volatilities (or uncertainty) for 2 SITEs, namely Cyprus and Malta. Monthly data are available for both international tourist arrivals and composite country risk ratings compiled by the International Country Risk Guide (ICRG) for the period May 1986 to May 2002. The time-varying conditional variances of tourism growth and country risk returns for the 2 SITEs are analysed using multivariate models of conditional volatility. Empirical results show that Cyprus and Malta are complementary destinations for international tourists. Changes to tourism patterns in Cyprus lead to changes to tourism patterns in Malta. Hence, tour operators and national tourism promotion authorities in Cyprus and Malta should collaborate closely in marketing and promoting joint tourism products. Moreover, foreign entities interested in investing in the tourism sectors of Cyprus and Malta should consider investment projects that span a long period of time. The performance of the tourism sector and the associated composite risk are independent of each other for the two countries. However, there is a direct relationship between the tourism sectors of Cyprus and Malta and their respective country risk settings.
2007 Elsevier Ltd. All rights reserved.
Keywords: Small size; Island countries; Tourism growth; Country risk ratings; Risk returns; ICRG; Volatility; Risk spillovers

Wednesday, January 27, 2010

Systematic regional planning for multiple objective natural resource management


 
Abstract
On-ground natural resource management actions such as revegetation and remnant vegetation management can simultaneously affect multiple objectives including land, water and biodiversity resources. Hence, planning for the sustainable management of natural resources requires consideration of these multiple objectives. However, planning the location of management actions in the landscape often treats these objectives individually to reduce the process and spatial complexity inherent in human-modified and natural landscapes. This can be inefficient and potentially counterproductive given the linkages and trade-offs involved. We develop and apply a systematic regional planning approach to identify geographic priorities for on-ground natural resource management actions that most cost-effectively meet multiple natural resource management objectives. Our systematic regional planning approach utilises integer programming within a structured multi-criteria decision analysis framework. Intelligent siting can capitalise on the multiple benefits of on-ground actions and achieve natural resource management objectives more efficiently. The focus of this study is the human-modified landscape of the River Murray, South Australia. However, the methodology and analyses presented here can be adapted to other regions requiring more efficient and integrated planning for the management of natural resources.
Crown Copyright @ 2007 Published by Elsevier Ltd. All rights reserved.
Keywords: Decision theory; Multi-criteria decision analysis; Environmental policy and economics; Geographic information systems; Integrated planning

Ethnobiology, socio-economics and management of mangrove forests: A review


 
There is growing research interest in the ethnobiology, socio-economics and management of mangrove forests. Coastal residents who use mangroves and their resources may have considerable botanical and ecological knowledgeable about these forests. A wide variety of forest products are harvested in mangroves, especially wood for fuel and construction, tannins and medicines. Although there are exceptions,mangrove forest products are typically harvested in a small-scale and selective manner, with harvesting efforts and impacts concentrated in stands that are closer to settlements and easiest to access (by land or by sea). Mangroves support diverse, local fisheries, and also provide critical nursery habitat and marine productivity which support wider commercial fisheries. These forests also provide valuable ecosystem services that benefit coastal communities, including coastal land stabilization and storm protection. The overlapping of marine and terrestrial resources in mangroves creates tenure ambiguities that complicate management and may induce conflict between competing interests. Mangroves have been cut and cleared extensively to make way for brackish water aquaculture and infrastructure development. More attention is now given to managing remaining forests sustainably and to restoring those degraded from past use. Recent advances in remotely sensed, geo-spatial monitoring provide opportunities for researchers and planners to better understand and improve the management of these unique forested wetlands.
@2008 Elsevier B.V.

Integrating knowledge to assess coastal vulnerability to sea-level rise: The development of the DIVA tool


 
This paper describes the development of the DIVA tool, a user-friendly tool for assessing coastal vulnerability from subnational to global levels. The development involved the two major challenges of integrating knowledge in the form of data, scenarios and models from various natural, social and engineering science disciplines and making this integrated knowledge accessible to a broad community of end-users. These challenges were addressed by (i) creating and applying the DIVA method, an iterative, modular method for developing integrating models amongst distributed partners and (ii) making the data, scenarios and integrated model, equipped with a powerful graphical user interface, directly and freely available to end-users.
@2009 Elsevier Ltd. All rights reserved

STUDY ON ASSESSING ECONOMIC VULNERABILITY OF SMALL ISLAND REGIONS (Adrianto & Matshuda)


Abstract
Tujuan utama  kajian ini adalah untuk menilai vulnerability ekonomi pembangunan wilayah pulau-pulau kecil sebagai bagian dalam mempertahankan keberlanjutannya. Dengan mengkombinasikan data time series ekonomi dan lingkungan, digunakan untuk menyusun indek composite vulnerability ekonomi yang dibangun dari tiga variabel exogenous, yaitu eksposure ekonomi, ekonomi akibat sifat remote, dan ekonomi akibat dampak dari lingkungan dan kerusakan alam. Kepulauan Pulau Amami, Kagoshima, Jepang dijadikan studi kasus pada paper ini.
Hasil yang didapat mengindikasikan bahwa dengan berbasiskan indeks valuasi terhadap gross produk pulau kecil, Pulau Kikaijima merupakan pulau yang paling vulnerability (rentan) di Kepulauan Amami, melalui nilai CEVI  (composite economic vulnerability index)  sebesar 0.678, selanjutnya Pulau Okinoerabujima juga dapat dipertimbangkan sebagai pulau yang paling vulnerability dengan  nilai CEVI  sebesar 0.680.  Berdasarkan hasil ini dapat diungkap bahwasanya pulau-pulau terkecil relatif memiliki vulnerability lebih tinggi dibandingkan dengan pulau yang lebih besar, dimana juga mengkonfirmasikan tingkat vulnerability negara  pada penelitian sebelumnya.
Namun,  meski faktanya pulau kecil relatif memiliki vulnerability tinggi, juga memiliki tingkat perekonomian bagus yang ditunjukkan  melalui pendapatan per kapita. Dalam hal ini, kondisi  tersebut sangat memungkinkan terjadi mengingat keberhasilan pulau kecil dapat dicapai dengan mempertimbangkan kondisi vulnerability yang melekat sebagai indikator keberlanjutan.  Mengenai temuan ini, juga telah dilakukan pengujian dengan membandingkan hasil vulnerability dan konsep awal dari resiliensi sebuah pulau untuk mengungkap  prespective lain penilaian terhadap keberlanjutan di wilayah pulau kecil
Kata kunciKepulauan Amami, composite economic vulnerability index, exposure ekonomi,  penilaian ekonomi terhadap kerusakan alam, dampak exogenous, resiliensi

Tuesday, January 26, 2010

PRESERVATION OF GENETIC DIVERSITY IN RESTOCKING OF THE SEA CUCUMBER HOLOTHURIA SCRABA INVESTIGATED BY ALLOZYME ELECTROPHORESIS



Ketika upaya pelepasan Holothuria scabra dilakukan dengan menggunakan jenis yang berbeda, terpikir untuk mengetahui pengaruhnya pada komunitas yang ada. Di New Caledonia, keragaman genetik populasi dari H. scabra di wilayah yang sama (berdasarkan tinjauan allozyme oleh electrophoresis dari 258 individu) menunjukkan keberadaan penting gene flow antara sembilan situs, ditambah dengan nilai-nilai ST M tidak berbeda secara signifikan. Namun, tes menunjukkan bahwa pada jenis tertentu di dua lokasi di bagian selatan, yang mengalami sedikit pertukaran air, menununjukkan perbedaan yang signifikan dengan tiga jenis lainnya di pantai barat. Dimasukkannya spesimen H. scabra yang berasal dari Bali (n = 90) dan Knocker Bay, Australia (n = 47), dibandingkan dengan data yang ada di Pasifik Barat (Torres, Kepulauan Solomon, Upstraits Bay, dan Hervey Bay) menunjukkan bahwa kondisi populasi yang sangat berbeda melalui pengujian menggunakan tes spesifik dan sampel yang dipisahkan rapi dalam sebuah analisis UPGMA, jenis klaster (metode pengelompokan asosiasi media UPGMA). Nilai-nilai dari jarak antara Rogers populasi genetika secara signifikan berkorelasi dengan jarak geografis, yang menunjukkan isolasi oleh jarak. Selaras dengan peningkatan jarak genetik pada beberapa ratus kilometer mendukung pandangan bahwa distribusi spasial dari setiap pemindahan harus dipertimbangkan berdasarkan dari apa yang kita tahu tentang perubahan frekuensi alleles dalam kawasan target.

ADAPTASI BIOTA ZONA INTERTIDAL




1.1    Latar belakang
Ekosistem pesisir dan laut merupakan ekosistem alamiah yang produktif, unik dan mempunyai nilai ekologis dan ekonomis yang tinggi. Kawasan pesisir memilki sejumlah fungsi ekologis berupa penghasil sumberdaya, penyedia jasa kenyamanan, penydia kebutuhan pokok hidup dan penerima limbah (Bengen, 2002).  Tata ruang sebagai wujud struktural ruang dan pola penggunaannya secara terencana atau tidak dari bagian permukaan bumi di laut dan pesisir, dikenal selama ini sebagai objek dalam memenuhi berbagai kebutuhan manusia.  Selain mengandung beraneka ragam sumber daya alam dan jasa lingkungan yang telah dan sementara dimanfaatkan manusia, ruang laut dan pesisir menampilkan berbagai isu menyangkut keterbatasan dan konflik dalam pemanfaatannya.  Untuk mengharapkan keberlanjutan fumgsi dimensi ekologis yang dimiliki oleh kawasan pesisir,  selayaknya digiatkan upaya pelestarian dan pemanfaatan segenap sumberdaya yang ada di dalamnya secara berkelanjutan.
Ekosistem pesisir dan lautan merupakan sistim akuatik yang terbesar diplanet bumi. Ukuran dan kerumitannya menyulitkan kita untuk dapat membicarakannya secara utuh sebagai suatu kesatuan. Akibatnya dirasa lebih mudah jika membaginya menjadi sub-bagian yang dapat dikelola, selanjutnya masing-masing dapat dibicarakan berdasarkan prisip-prinsip ekologi yang menentukkan kemampuan adaptasi organisme dari suatu komunitas. Tidak ada suatu cara pembagian laut yang telah diajukan yang dapat diterima secara universal. Cara pembagiannya telah banyak dipakai oleh para ilmuwan dan pakar kelautan diseluruh dunia.
Salah satu bagian dari pembagian ekosistem di kawasan pesisir dan laut adalah kawasan intertidal (intertidal zone). Wilayah pesisir atau coastal adalah salah satu sistim lingkungan yang ada, dimana zona intertidal atau lebih dikenal dengan zona pasang surut adalah merupakan daerah yang terkecil dari semua daerah yang terdapat di samudera dunia, merupakan pinggiran yang sempit sekali – hanya beberapa meter luasnya – terletak di antara air tinggi (high water) dan air rendah (low water). Zona ini merupakan bagian laut yang paling dikenal dan paling dekat dengan kegiatan kita apalagi dalam melakukan berbagai macam aktivitas, hanya di daerah inilah penelitian dapat langsung kita laksanakan secara langsung selama perioda air surut, tanpa memerlukan peralatan khusus.
Letak zona intertidal yang dekat dengan berbagai macam aktifitas manusia, dan mmeiliki lingkungan dengan dinamika yang tinggi menjadikan kawasan ini sangat rentan terhadap gangguan. Kondisi ini tentu saja akan berpengaruh terhadap segenap kehidupan di dalamnya.  Pengaruh tersebut salah satunya dapat berupa cara beradaptasi. Adaptasi ini diperlukan untuk mempertahankan hidup pada lingkungan di zona intertidal. Keberhasilan beradaptasi akan menentukan keberlangsungan organisme di zona intertidal.

1.2     Tujuan
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :
1.      Menganalisa ekologi zona intertidal beserta biota yang ada di dalamnya
2.      Menganalisa bentuk adaptasi biota yang ada di zona intertidal
3.      Merumuskan bentuk pengelolaan pada zona intertidal

1.3     Manfaat
a.      Pemahaman akan kondisi lingkungan dan karakter biota yang ada di zona intertidal dapat dijadikan sebagai acuan dalam upaya pengelolaan zona intertidal.